Jejaring Sosial, Antara Kebutuhan atau Eksistensi

Oleh: Naila Husna (Teknik Informatika UB)

“Situs jejaring sosial merupakan bagian penting dari gaya hidup berinternet di Inggris, dan popularitasnya terus meningkat[1]

(Robin Goad, research director for Experian Hitwise)

Kutipan pernyataan Robin Goad tersebut tampaknya sangat sesuai dengan fenomena yang ada pada saat ini. Bagaimana tidak, masyarakat kita boleh jadi telah terbawa euforia akan situs jejaring sosial yang kian hari semakin menjamur itu.

Jejaring sosial atau social networking adalah sebuah struktur sosial yang dibentuk oleh kumpulan individu atau organisasi, di mana mereka saling terhubung satu sama lainnya dengan cara tertentu[2].

Dimulai sekitar tahun 2000-an, situs jejaring sosial Friendster masuk dan merajai dunia maya. Berbondong-bondong orang membuka akun di sana. Namun, fenomena Friendster tidak berlangsung lama. Sebab hadir pesaing baru yang menawarkan fasilitas lebih dari yang ditawarkan oleh Friendster. Tidak heran, situs baru yang kita kenal dengan nama Facebook itu menjadi salah satu situs jejaring sosial yang menduduki peringkat pertama di dunia sebagai situs terbanyak dikunjungi. Sedangkan pada tahun 2006, Twitter hadir mengenalkan dirinya. Situs microblog yang memberikan fasilitas mengirimkan teks kepada sesama member-nya ini, mulai menarik perhatian banyak orang dan mengharuskan Facebook membagi ‘lahannya’. Dan kini ditambah hadirnya Google+ yang promosi kehadirannya luar biasa dan sempat menjadi trending topic di situs yang bisa ‘berkicau’ tersebut[3].

Dengan pesatnya perkembangan situs jejaring sosial yang ada, tak heran jika saat ini banyak orang yang ingin selalu updated dengan pergantian tren situs pertemanan itu. Bahkan banyak di antara mereka yang memiliki akun di setiap situs yang berbeda.

Sebenarnya hal ini menimbulkan polemik yang cukup menarik untuk diangkat, mengingat esensi dari situs jejaring sosial itu sendiri. Sejatinya,  situs jejaring sosial merupakan wadah untuk menjalin pertemanan lewat dunia maya. Akan tetapi, apa jadinya jika seorang pemilik akun di suatu situs jejaring sosial adalah orang yang telah mempunyai akun di situs jejaring sosial lainnya, yang notabene sudah akrab dengan dunia jejaring sosial?

Ada satu fakta menarik bila kita melihat lebih dalam mengenai lawan interaksi di dalamnya.  Bahwa, tak jarang teman di dalam situs pertemanan yang satu dengan situs lainnya adalah orang-orang yang sama.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah orang-orang tersebut se-sosial itu? Benarkah semua membutuhkan banyak situs jejaring sosial, yang ternyata memiliki tujuan yang sama tapi hanya berbeda tampilan luarnya saja[4]? Atau kah orang-orang itu hanya ingin terlihat eksis dengan mengikuti setiap perkembangannya?

Jejaring sosial sebagai kebutuhan

Situs jejaring sosial pada kenyataannya membawa begitu banyak manfaat. Selain sebagai sarana komunikasi, situs jejaring sosial dapat digunakan untuk menjalankan promosi bisnis, publikasi kegiatan dan lain-lain.

Saya pribadi adalah pengguna situs jejaring sosial aktif. Dan sejauh ini, saya mengakui pentingnya kebutuhan akan situs ini. Lingkungan saya menjadi faktor utama dalam menggunakannya. Dikarenakan semua rekan, bahkan pengajar saya pun menggunakan situs ini untuk tempat berbagi (share) mengenai tugas atau pun materi kuliah. Tak dapat dipungkiri, situs jejaring sosial menjadi kebutuhan prioritas, atau yang bisa juga dikatakan kebutuhan primer. Bukan sekedar kebutuhan tersier lagi.

Jejaring sosial sebagai media eksistensi

Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, untuk ‘menjadi’ atau ‘mengada’.  Ini  sesuai  dengan  asal  kata  eksistensi  itu  sendiri,  yakni  exsistere[5]. Eksistensi atau pengakuan ialah suatu keadaan di mana seseorang ingin diakui dan dihargai oleh orang-orang di sekelilingnya. Eksistensi bersifat lentur dan selalu dicari atau pun dikejar oleh manusia. Ini sama halnya dengan fenomena yang ada pada saat ini. Dimana orang-orang beranggapan bahwa memiliki banyak akun di setiap situs jejaring sosial merupakan cara terbaik untuk mendapat pengakuan. Manusia sekarang lebih merasa bangga saat ia bisa mendapatkan banyak follower di Twitter dibandingkan mempunyai mobil mewah.

Namun jika kita cermati dengan baik, nyatanya fenomena eksistensi juga diikuti dengan efek samping yang tidak kalah hebat dengan nilai positif yang terkandung di dalamnya. Dalam tingkat ketergantungan yang tinggi antara manusia dengan dunia maya serta eksistensi manusia itu sendiri, tidak mustahil apabila suatu saat hal tersebut justru akan mengikat manusia dan mengurung manusia itu sendiri dalam penjara abstrak yang bernama “dunia maya.”

Dari fakta-fakta yang ada, kembali kepada kita sebagai pengguna aplikasi Internet yang bijak. Apakah kita benar-benar butuh, atau kah hanya sekedar mencari eksistensi diri?  Yang jelas,  apapun tujuan kita dalam penggunaannya, tetap gunakan media yang ada dengan sebaik-baik fungsinya.

 

Sumber:

[1] http://www.klikunic.com/2010/06/fakta-baru-gan-situs-jejaring- sosial.html#ixzz1U4hXfVd8

[2] http://islam-download.net/lain-lain/sedikit-ulasan-mengenai-jejaring-sosial.html

[3] http://www.marketplus.co.id/2010/11/04/jejaring-sosial-dan-perkembangannya/

[4] http://vibizconsulting.com/column/index/ictfiles/177

[5] Abidin Zaenal (2007:16), http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_056667_chapter2.pdf.

 

One Response to “Jejaring Sosial, Antara Kebutuhan atau Eksistensi”

  1. Rio says:

    Blogwalking aja gan..
    BTW ada jaringan pertemanan Indonesia berbasis ponsel http://mobinessia.com udah pernah tau belum gan?

Leave a Response

CAPTCHA Image
*