Ironi

Siang kemarin, dalam perjalanan pulang dari sebuah rumah sakit di daerah Mergosono Kota Malang, ada yang agak menggelitik saat saya bersama ibunda berhenti di daerah Pasar Klojen untuk membeli gado-gado di salah satu pedagang kakilima..

Yak, benar. Bukankah papan larangan seperti ini biasa-biasa saja? Pemerintah sering memasang yang seperti ini untuk menjaga ketertiban dan kebersihan kota. Menariknya, tepat di depan papan itulah sang penjual gado-gado (dan beberapa orang pedagang lain) bekerja mencari nafkah..

Yang di bawah ini jika dilihat dari sisi selatan “rombong“-nya:

Sebenarnya saya ingin juga mencoba ambil gambar dari sudut-sudut lain, tapi nggak enak sama penjual bakso di samping saya.. Mana kamera hape saya punya “shutter”-sound yang lucu pula.. :D

Saya juga sempat mendengar cuplikan dialog antara penjual gado-gado itu dengan ibu saya..
Penjual Gado-gado (P):
“Besok saya mau libur tiga hari, Bu..”
Ibunda (I):
“O ya? Kenapa?”
Penjual Gado-gado (P):
“Mau ada pembersihan, Bu.. Untuk Adipura. Ngga pa-pa lah Bu, saya libur tiga hari aja, daripada nanti dikejar-kejar, malah susah.. Habis itu ya jualan lagi.”
Ibunda (I):
“……….”

Melihat fenomena ini, dalam hati saya timbul pertanyaan-pertanyaan:

  • Apakah monitoring untuk Adipura memang hanya selama tiga hari dalam setiap tahunnya?
  • Mana yang lebih dahulu hadir di situ, penjual gado-gado ataukah papan larangan berjualan?
  • Apakah ini salah pedagang kakilima, yang tidak mengindahkan larangan Pemerintah?
  • Ataukah yang salah pihak Pemerintah, karena setelah memasang larangan tidak menjaga agar larangan tersebut tetap dipatuhi?
  • Atau, apakah salah Pemerintah adalah hanya melarang tanpa memberikan alternatif solusi?

Sepertinya saya/ibunda juga jadi ikut salah karena berkontribusi membeli dari pedagang yang melanggar larangan Pemerintah.. :|

14 Responses to “Ironi”

  1. arief says:

    He he… itulah aturan. Masalahnya yang menjalankan aturan gak tegas, yang bikin aturan juga gak kasih solusi. btw.. gado-gadonya enak gak mas? mumpung tiap hari harus lewat daerah situ.

  2. FHA INDAHOOD says:

    WAH,,, pak faris bisa ngelucu juga,, aku sampai ngakak bacanya pak

  3. FHA INDAHOOD says:

    WAH,, pak faris bisa ngelucu juga,, aku sampai ngakak bacanya pak

  4. arief says:

    Wah.. gado-gadonya enak gak ? :D

  5. bhajoe says:

    Mungking yang hadir duluan si Ibu penjual gado-gado itu, jadi si Ibu merasa itu daerahnya… :D
    Eh ngomong2 enak gak gado2 nya? Klo enak ntar 3 hari lagi tak berkunjung ke sana wekekeke…. :D

  6. He he. Kalo tentang rasanya, menurut saya masih lebih enak gado-gado yang di Jl. Raya Langsep, atau yang penjualnya keliling di daerah Jl. Suropati-Tamrin-dan sekitarnya, atau yang di daerah Pasar Oro-oro Dowo. Memang sih yang di Pasar Klojen ini lebih murah harganya..
    :P

  7. FHA INDAHOOD says:

    gado gado yang enak tu,, buatan saya.. hahahahahaha

  8. Harus ada bukti fisik, baru bisa dipercaya :lol:

  9. FHA INDAHOOD says:

    waduh pak,,, bukannya gag mau buktikan,,,kenapa saya bilang paling enak,, soalnya .. saya membuat gado gado dengan bahan bahan kualitas terbaik,, jadi harus import dulu dari luar negeri,,, hehehehehe (alasan yang cemerlang wkwkwkwwkwk)

  10. Ah, belum tentu yang dari luar negeri lebih baik daripada yang dari dalam negeri sendiri ;)
    He he.

  11. rizal setya says:

    phonecamera is the most portable camera.

    intinya semua ada benda yang namanya ‘uang’ dan ‘perut’

    1.penjual : butuh uang untuk beli makan (isi perut)
    2.pemerintah : satpol PP kerja dibayar butuh uang buat makan (isi perut)
    3.pak fariz :beli gado-gado buat perut
    :)

  12. FHA INDAHOOD says:

    hahahahahha,, betul betul betul,,,,,
    ia deh,, hahahahahaha,,, alsannya ganti deh
    adu pak,, sebetulnya pengen buatin gado gado,, tapi saya sibuk,, harus belajar MATEK,,, jadi gag ada waktu buat bikin gado gado,, heheheehehehe..

  13. Setuju sama portabilitas kamera hape ;)

    Memang seringkali yang jadi tujuan kegiatan-kegiatan kita adalah “untuk perut”. Namun kita tidak seharusnya “mendedikasikan” hidup ini semata-mata hanya untuk urusan perut, agar kita sebagai manusia beda dengan makhluqNya yang lain :)

  14. Wah, kok Matek yg dijadiin alesan.. :P

Leave a Response

CAPTCHA Image
*