Teknologi Enkripsi

Apakah Anda dapat menyimpan sebuah rahasia? Sejak lebih dari 2.500 tahun, penguasa, dinas rahasia, dan ahli kriptologI berusaha mencari tahu rahasia ini.

Zaman dahulu, enkripsi merupakan “ladang” para elite politik. Saat ini, semua orang menggunakannya saat browsing, mengirim e-mail, atau mengecek rekening melalui online banking. Tanpa algoritma-algoritma yang mencegah terjadinya penyadapan, Internet tidak akan menjadi seperti sekarang ini.

Prinsip yang digunakan sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Bila saat ini yang diubah adalah rentetan blok bit, pada masa Caesar yang diubah adalah huruf. Para jenderal Roma melindungi korespondensi mereka de­ngan menukar tiap karakter tiga huruf setelahnya, misalnya huruf A menjadi D, B menjadi E, dan seterusnya. Enkripsi mono-alfabet ini kemudian dijebol oleh ahli-ahli dari negeri Arab pada abad ke-9 de­ngan­ teknik frekuensi.Enkripsi poly-alfabet dari ahli kriptologi Perancis, Blaise de Vigenère sedikit lebih sulit untuk dijebol. Dengan sebuah pola, ia menukar huruf dengan huruf alfabet yang jauh. Prinsipnya, mesin enkripsi mekanis dari abad ke-20, seperti Enigma yang terkenal itu, masih bekerja dengan metode tersebut.

Enkripsi dapat dibobol semua orang

Kemampuan komputer yang semakin canggih membuat algoritma semakin komplek, pembobolannya pun menjadi lebih cepat. Ahli kriptologi kerap menggunakan prinsip Kerckhoffs, sebuah metode yang dianggap aman selama key tetap dirahasiakan. Algoritma enkripsi boleh dibuka sumbernya. Konsep open source ini membuat kualitas algoritma menjadi lebih baik dan dapat diuji oleh semua orang.

Bila sebuah serangan berhasil, usaha untuk mengembangkan algoritma menjadi terbuka. Nasib ini dialami oleh Data Encryption Standard (DES) pada tahun 1998. Sebelumnya, teknik ini digunakan oleh instansi pemerintah AS. Panjang key 56 bit ternyata terlalu pendek. Hardware yang cepat dapat menjebol key ini dengan menggunakan metode Brute-Force attack.

Para ahli kemudian berlomba untuk mengembangkan penerus DES. Peme­nangnya adalah algoritma Rijndael yang saat ini dikenal dengan nama key AES 128 bit. Metode ini digunakan, mulai dari WLAN untuk mengenkripsi file sampai pada Blu-ray. Namun, untuk berkomunikasi di Internet dengan aman, metode klasik simetris ini tidaklah cukup. Pengirim dan penerima menggu­nakan key yang sama untuk mengacak dan membaca pesan. Lantaran key itu sendiri tidak dienkripsi, pesan dapat disadap oleh semua orang.

Penemuan enkripsi asimetris pada tahun 1970-an mengatasi masalah tersebut. Penerima membuat sebuah public key dan private key. Public key ini kemudian dikirim ke semua orang yang akan menerima pesan yang sudah terenkripsi. Public key akan mengenkripsi dokumen yang hanya dapat dibuka dengan sebuah private key. Kelemahannya, lantaran pasa­ngan key ini dikalkulasi dari dua bilangan prima besar, metode ini sangat memerlukan waktu. Oleh sebab itu, online banking memadukan sistem enkripsi simetris dan asimetris. Pesan diacak secara simetris, sedangkan key-nya diacak secara asimetris.

Sistem enkripsi aktual bakal terancam apabila komputer kuantum sudah memiliki kemampuan cukup untuk menjebol enkripsi 128 bit key dengan Brute-Force. Saat itu, enkripsi hanya dapat ditolong dengan menggunakan quantum cryptology.

[ Klik gambar untuk memperbesar ]

Sumber: CHIP.co.id

One Response to “Teknologi Enkripsi”

  1. Mr WordPress says:

    This is an example of a WordPress comment, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. You can create as many comments like this one or sub-comments as you like and manage all of your content inside of WordPress.

Leave a Response

CAPTCHA Image
*